Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Hiruk pikuk
Nusantara berada
Timur dari
tengah ke bawah
Tak dikenal
mewah ….
Gendang
berdendang
Belimbing
berbaring
Mujair mengalir
Tak dikenal
mahal ….
Pendiri tanah
ini terkubur di sini
Pemimpin ini
berangkat dari sini
Penyair ini
lahir di sini
Tak dikenal di
sini ….
Mungkin hanya
sebuah nama
Dari sebuah kota
Aku tak dikenal
REMBULAN
Karya : Burhanudin Rasyid
Sinar putih
menembus anganku
Seakan membius alam
fikirku
Keunikan cahaya
hati
Kilauan permata
suci
Itukah
cahaya kehidupan
Indah
tak ternilaikan
Lidah
ini membeku
Mata
ini terpaku
Panah
asmara telah menusukku
Kau…. Purnama
Sungguh tak ternoda
Karunia Sang
Pencipta
Akankah tangan ini
kuasa
Meraih sinar hatimu
Hingga ujung
hayatku
Coretan
ini hanyalah namamu
Dari
seorang pecandu
Untukmu
Oh…
Rembulan
Malam yang terang. Semilir angin berhembus
memasuki paru-paruku. Kuterdiam termenung duduk di halaman rumahku. Kulihat
langit tampak cerah meski awan masih berlarian kesana kemari. Terlihat germerlap
bintang jauh di angkasa tersenyum manis melihat diriku.
Kurebahkan badan dan aku melihat jauh keatas
sana. Sesosok cahaya yang terang sekali bersinar yang menambah indahnya langit
hitam. Akupun mulai berfikir “Cahaya apa yang terang ini, sinarnya tajam
menembus angan fikirku”. Akupun menatapnya.
“Tit-tut-tit” suara HP ku membuyarkan
lamunanku. “1 Message Received” itulah tulisan yang ada di layar HPku.
Seseorang terlintas di fikiranku, “Semoga dia yang mengirim sms ini” gumamku.
Huh ternyata pesan dari operator, kalau pulsaku akan berada pada masa tenggang
3 hari lagi dan disuruh isi ulang. Akupun kesal dan langsung menghapus pesan
itu.
Ku lihat inbox yang ada di HPku, malam ini belum
ada satu pesanpun dari dia. Aku tak tau apakah dia sibukkah, lelahkah, atau
sudah tidurkah. Ku buka hp ku lagi, kucoba menuliskan sebuah pesan. “Selamat
Malam ^_^” pesan ini akan kutujukan padanya. Ku cari nomornya di contact lalu
ke tekan tombol “Send”. Pesanpun terkirim.
Angin malam yang berhembus membuat badanku agak
menggigil. Tapi ini tak bisa membuatku untuk masuk kedalam rumah. Aku menanti
jawaban sms sembari melihat ke atas langit melanjutkan khayal fikiranku di
angkasa.
Kulihat cahaya terang itu lagi. Sinarnya
semakin malam semakin terang. Semakin lama aku semakin menyukai sinar itu. Ku
terpesona melihatnya. Hingga mataku makin lama tak sadar untuk menutup. Akupun
tak sadar tertidur di tempat ini dilihat oleh jutaan bintang yang selalu
tersenyum melihatku.
“Tit-tit-tit” Alarm HPku berbunyi. Kulihat jam
yang ada di HP ku ternyata sudah menunjukkan 22.30. Sudah 1 jam aku tertidur
disini. Ditemani gemerlip bintang, sebuah benda yang terang dan juga udara yang
dingin menyelimuti tidurku. Tak ada pesan yang masuk di HPku, menandakan dia
belum membalas. “Mungkinkah kau sudah tidur sejak aku mengirim pesan tadi. Aku Sebenarnya
Merindukanmu. Malam ini ku sendiri, aku ingin bercerita dan bercanda tawa
denganmu. Mengapa tiada kabar yang ku terima darimu. Apakah engkau marah
padaku? Apakah engkau membenciku?” berontak hatiku.
Kulihat keatas lagi bahwa bulan semakin
terang. Ku teringat kata-kata yang pernah dia ucapkan bahwa dia bagian dari
bulan. Ku berfikir “Mengapa kau memilih menjadi bulan?”. Kutatap bulan itu
lagi, cahayanya semakin terang, semakin indah dan semakin tak ternilai
keelokannya.
“Ohh aku tau” gumamku. Aku tau apa arti
perkataanya. Dia mungkin hanyalah sebuah bulan yang hanya bersinar bila
disinari oleh matahari artinya dia itu ada karena dia telah diciptakan-Nya.
Sinar yang dia pancarkan dari sinar matahari untuk meneruskan kebumi menandakan
dia itu adalah orang yang jujur, menyampaikan semua amanah yang berupa sinar
dari matahari untuk menyinari bumi. Selain itu, setiap malam dia selalu ada dan
bisa melihat diriku. Dengan begitu meski kita tak bertemu rasa rinduku bisa
terobati dengan melihat sinar cahayanya.
Mulai malam itupun aku mulai menyukai sinar
bulan yang terang itu. Aku pun menyerukan “Setiap malam kuluangkan waktu untuk
melihat dirimu. Tak akan ada yang dapat melebihi sinarmu. Meski banyak bintang
yang sangat bagus dan indah diangkasa, aku akan tetap memilih kau sang bulan.
Karena kaulah yang terbaik. Dan aku disini akan selalu setia menantimu Oh Sinar Rembulan” ^_^.
SANG PAHLAWAN
Karya : Burhanudin Rasyid
Sekejap kegelapan telah musnah
Kini datang mentari dengan sejuta cahaya
Menyelamatkan dunia dari kebelengguan
Senyumu mengobarkan semangat juang
Gerak bibirmu menusuk hati para insan
Tingkah lakumu mengingatkan hati manusia
Untuk menjelajahi keringnya kehidupan
Pengorbananmu bagai sang surya menyinari bumi
Tiada setitik noda yang kau kenakan
Kaulah yang paling sempurna
Kini setitik cahayamu telahku terima
Tuk arungi liku-liku kehidupan ini
Demi memetik bintang harapan
Tuk terangi kehidupan




